2017-04-10

membangunkan yang lama


melihat arsitektur itu seperti melihat tubuh orang saja.
ada rangka dan otot yang membuatnya tegak dan kuat tidak rebah, dan ada daging serta kulit yang membuatnya tampil dengan cantik dan elegan.

untuk orang umum, yang menariknya pertama tentu adalah penampilan luar daging dan kulit dari tubuh orang. sementara, bagi mereka yang mempelajari kesehatan atau anatomi, suatu ilmu yang berkepentingan untuk memulihkan bila ada tubuh terkena gangguan, maka yang menarik bagi mereka adalah justru struktur rangka dan otot yang bekerja di balik daging dan kuilt tadi. yang tidak kelihatan secara langsung oleh mata awam.

demikian pulalah arsitektur.
bagi mahasiswa arsitektur yang memberikan waktu 5 tahun hidupnya untuk mempelajari bagaimana suatu arsitektur bisa berdiri tegak dengan elok, yang menarik perhatiannya adalah justru sistem struktur yang memungkinkan suatu bangunan bisa berdiri dengan kuat dan indah itu.
mereka harus mampu melihat dengan 'menembus ke sebalik kuli't hingga memahami bagaimana tiang, balok dan segenap sistem rangka bekerja menegakkan bangunan.

untuk itu mereka harus melihat bangunan-bangunan yang ditegakkan oleh orang sebelum dia. 
dengan kata lain, mereka harus belajar dari sejarah. sebab pengetahuan dan ketrampilan membangun tidak mungkin ada tanpa ada orang yang lebih dulu membangun!
sehingga bisa dimaklumi bila untuk belajar arsitektur  para mahasiswa itu harus belajar dari sana. belajar dari keunggulan dan kesalahan yang terjadi pada bangunan-bangunan sebelum dia.

pagi itu kami bersembilan datang ke masjid bertiang tunggal di kompleks TAMANSARI yogyakarta. masjid ini sistem strukturnya terbuka sehingga terlhat bagi siapa saja yag ada di bawahnya. adapun keunikan atau yang membedakan dari masjid-masjid lain adalah atapnya ditopang oleh satu tiang besar di tengah, dan tiang-tiang [sekarang ditutup tembok] yang ada di tepi-tepi atap.

dengan hanya satu tiang di tengah ruang sembahyang, maka ruang lebih terasa lapang. tidak terhalang oleh banyak tiang seperti jamaknya jenis atap lain. namun atap bertiang tunggal ini tidak bisa dimekarkan skalanya sehingga ukuran bangunan yang bisa dilayani juga tidak bisa terlalu besar.

bangunan bertiang tunggal sebenarnya sudah dikenal lama oleh orang jawa. di relief percandian sudah mengenal bangunan di jawa abad ke-12. demikian pula di kompleks kraton cirebon pun masih ada bangsal yang atapnya ditopang oleh tiang tunggal. juga di masjid-masjid di kawasan 'bang kulon' [yakni kawasan jawa tengah bagian barat, di sekitar sungai serayu, yang menggunakan bahasa banyumasan] masih dijumpai banyak masjid bertiang tunggal.

saya tidak punya informasi mengapa masjid yang dibangun oleh sri sultan hamengkubuwana IX dengan bantuan arsitek mintobudoyo belum lama ini memilih menggunakan atap bertiang tunggal, katimbang jenis atap lain. tapi yang jelas bahwa di kompleks kraton yogyakarta bertambah koleksi jenis struktur bangunan yang merupakan hasil belajar si arsitek dari produk masa lalu.
suatu tindakan yang mirip "membangunkan tubuh yang telah lama tertidur".

--
mahatmanto
duta wacana

0 comments:

Post a Comment