2017-05-06

susu jahe pak min


"tidak seorang pun terpencil seperti pulau"

meski ucapan itu berasal dari john donne, tapi saya membaca kutipan itu pertama kali dari buku thomas merton, seorang rahib modern yang meski tinggal di biara kontemplatif, tapi ia rajin menulis.
dan buku-buku tulisannya laku keras, karena ia menulis untuk orang modern hal-hal yang absen di dunia modern, yakni nilai-nilai spiritual. 
artinya, ia mengusahakan untuk terkoneksi dengan dunia modern, meski dia sendiri tinggal di dalam tembok biara yang bisu, dan dari situ ia tetap ingin memberi arti pada dunia di luarnya, tanpa perlu meninggalkan tempat.

terhubung dengan orang lain, ruang lain, adalah dorongan alami kita. manusia sebagai makhluk sosial. wujudnya adalah sarana-sarana komunikasi dan transportasi: jaringannyamaupun modanya. [dan sepeda adalah satunya hehe]

kota dengan jaringan jalan, lorong dan gangnya mencerminkan itu. mencerminkan bagaimana cara kita bertemu dengan orang lain. bila orang banguntapan seperti saya hendak bertemu orang di malioboro, maka akan melalui berbagai kelas jalan yang berbeda-beda lebarnya, kesibukannya, arah lalu lintasnya, jenis-jenis kendaraannya... 
dari mulai lorong perumahan, gang-gang, hingga ke jalan besar, ada hirarkhi yang jelas: dari kecil ke besar, dari sempit ke longgar.
jaringan jalan ini mirip pohon: ada akar, batang, cabang, ranting, carang dan baru buah, bunga dan daun..
kalau di yogya, semua jalan menuju ke alun-alun, halaman depan kraton. sama seperti dulu pada masa roma, ada ungkapan "semua jalan menuju roma"

apakah ada jaringan jalan yang tidak hirarkhis?

kalau ada, maka metaforanya bukan pohon, tapi jahe, atau rumput, atau bambu... yakni kelompok tanaman yang disebut sebagai rhizome, atau rizoma dalam bahasa indonesia. yakni tanaman yang tubuhnya senderhana: antara akar, batang, caban itu menyatu dalam satu tubuh.
ajaibnya lagi, bila mereka saling didekatkan, bisa nyambung menjadi satu kesatuan struktur.

pohon dan rhizome, sebagai struktur yang berbeda cara-caranya menghubungkan bagian-bagiannya, pernah dibahas oleh deleuze. seorang filsuf asal prancis.

struktur rhizome tidak punya hirarkhi. bagian satu dengan yang lain dalam status yang setara. bukan yang satu menopang yang lain, seperti kolom menopang balok yang kita kenal.

di jalanan perumahan dan kampung sekitar saya, saya masih bisa menjelajahi hubungan-hubungan yang setara itu tadi. juga kalau saya hendak ke warung pak min, langganan saya kalau ingin minum susu jahe favorit saya.
tinggal ngonthel dari rumah, keluar gang sebentar, lalu pindah ke jalan yang menuju ke kampung di utara...luruus terus sampai puskesmas.
nah, 
di sampingnya itu,
tiap malam ada warung wedangan
susu jahe pak min!

--
mahatmanto

2017-04-12

manusia dan glondongan kayu




Ada suatu pendekatan yang menyatakan bahwa dalam pembangunan suatu candi salah satu cara mendatangkan batu ke lokasi pembangunan menggunakan deretan gelondongan kayu sebagai bantalan berjalan. Ketika batu didorong maka batu bergerak maju dengan mudah diatas bantalan glondongan kayu, dan glondongan kayu paling belakang akan terlepas dari beban batu, sedangkan ujung depan batu perlu ditumpu gelondongan kayu lagi untuk dapat didorong secara mudah.

Gelondongan kayu berfungsi menghantarkan kayu menuju lokasi candi. Satu batu candi tersebut merupakan bagian penting bahkan suci dalam membentuk suatu bangunan candi. Penting dalam bentuk melengkapi bentuk, maupun sebagai pengunci antar batu candi.

Ilmu pengetahuan bagai batu candi dan manusia yang mendalaminya sebagai gelondongan kayu yang menghantarkan dan memajukan suatu keilmuan. Secara periodik digantikan balok kayu lain di depannya, selalu ada manusia-manusia baru, atau pemikiran baru untuk menghantarkan suatu keilmuan satu gelindingan lebih maju.

Manusia yang bercumbu dengan suatu keilmuan, saling memajukan, saling melengkapi, saling melakukan kritik konstruktif. Manusia lama hilang, meninggalkan keilmuan pada titik tertentu yang dilanjutkan oleh manusia-manusia baru, meneruskan kemajuan suatu keilmuan. Selalu terjadi dialog, dari generasi ke generasi, lintas generasi ..

Yang mempunyai  tujuan akhir berupa suatu keilmuan yang dapat berdialog dengan keilmuan lain sehingga berkontribusi pada dunia lebih luas, batu yang akhirnya menemukan tempatnya pada suatu susunan candi.

Seberapa penting, kemajuan ilmu pengetahuan bagi kita sehingga kita rela menjadi gelondongan kayu?
Salam
..
Eigner

Terimakasih Pak Anto atas tambahan pengetahuannya.

2017-04-10

everlasting mak comblang

Siapa yang tidak mengenal Mak Comblang? Panggilan ini kerap hadir di telinga, dialah orang yang berjasa mempertemukan 2 manusia sehingga bisa menjadi pasangan. Mak Comblang adalah pihak ke 3 di antara 2 insan yang 'akan' menjadi pasangan. Umumnya dia akan pergi setelah pihak 1 dan 2 bertemu. Rupanya hal ini juga terjadi pada sambungan dalam sebuah bangunan.

Sabtu kemarin, (8 April 2017) kami, komunitas pesepeda mengunjungi Masjid Saka Tunggal. Disebut Saka Tunggal karena memang hanya memiliki 1 saka saja. Di sini saya mengamati sambungan yang melibatkan pihak ke 3. Sambungan tersebut saya jumpai di bagian luar masjid yaitu pada rangka atapnya. Untuk lebih jelasnya, silakan lihat gambar berikut.


Sambungan ini menghubungkan 2 balok dengan material yang sama yaitu kayu. Tetapi dalam hal ini membutuhkan pihak ke 3 yaitu kunci yang juga terbuat dari kayu.

Sebut saja pihak ke 3 ini sebagai mak comblang. Namun, mak comblang di sini aneh, biasanya ketika mak comblang berhasil mempertemukan 2 pihak, maka dia akan pergi, tetapi yang ini tidak demikian. Justru jika mak comblangnya pergi, maka sambungannya ambyar. Kenapa? Karena tidak  ada lagi yang mengunci mereka. Untuk lebih detail tentang balok yang memiliki sambungan ber-mak comblang, silakan lihat gambar berikut.


​Selanjutnya, kami pergi ke Cemeti. Di Cemeti,  lagi-lagi kami menemukan sang mak comblang! Kali ini dia menghubungkan 2 material yang berbeda, yaitu beton dan kayu. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar berikut.

Terlihat bahwa beton umpak dihubungkan dengan kolom kayu oleh baja. Lagi-lagi, jika mak comblangnya pergi maka yang terjadi adalah ambyar! Dari ke dua fakta ini sangat membuktikan bahwa peran mak comblang dalam sambungan pada bangunan sangat berbeda dengan mak comblang yang menghubungkan 2 insan, laki-laki dan perempuan. Jika mak comblang manusia biasanya pergi setelah sang laki-laki dan sang perempuan bertemu, maka mak comblang yang ini berbeda karena dia tidak bisa dilepaskan dari 2 pihak yang sudah bertemu. Kurang ajar! 😂

Mak comblang kerap ditemui dalam struktur bangunan. Dan oleh karena dia tak mungkin terpisahkan dengan yang disambungkan, maka saya menyebutnya EVERLASTING MAK COMBLANG.

Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like atau komentar.
Salam arsitek!

Bagus Panglipur

kaki lima kota

di yogya ini kita tidak punya kaki lima.
ada memang ruang memanjang di samping jalan yang mirip kaki lima atau trotoar, tapi tidak berfungsi sebagai kaki lima. ia sudah diserobot oleh tiang-tiang listrik, pot-pot raksasa untuk bunga, banner penjual pulsa, dijadikan warung tenda, dijadikan perluasan garasi atau tempat parkir, dan bahkan secara resmi dipakai menjadi halte bus trans-jogja.

padahal trotoar punya potensi untuk menjadi jalur pejalan kaki yang memungkinkan mereka berjalan secara sehat dan hemat, serta melihat-lihat orang lain lewat atau pun pemandangan dari gedung-gedung yang tentu berlomba-lomba didisain bagus agar menarik perhatian.
trotoar -pendeknya- adalah jalur untuk orang menikmati aktivitas jalan-jalan. tidak hanya jalan-jalan, namun juga pit-pitanyakni bergerak dengan sepeda tapi demi menikmati pergerakan dengan sarana pit itu sendiri.


trotoar di bandung,
foto diambil dari infobdg.com 

di bandung telah diusahakan untuk membuat trotoar sebagai jalur yang seperti itu. di beberapa ruas jalan yang memang dikitari oleh bangunan-bangunan indah peninggalan masa kolonial, trotoar di sekitar jalan braga dan gedung sate telah dicoba memperbaiki trotoarnya sehingga layak untuk orang bergerak berjalan-jalan maupun pit-pitan.
sumber gambar kompas.com

yogya juga sudah mengusahakan memperbaiki sarana pejalan kaki ini di ruas jalan malioboro. dan karena di yogya banyak bangunan serta titik-titik yang potensial untuk didatangi dengan jalan kaki, maka ada harapan besar pemerintah kota memberanikan diri membalikkan paradigma pembangunan selama ini: beri prioritas pada pejalan kaki dan pesepeda, untuk seluruh jalanan kota!

membangunkan yang lama


melihat arsitektur itu seperti melihat tubuh orang saja.
ada rangka dan otot yang membuatnya tegak dan kuat tidak rebah, dan ada daging serta kulit yang membuatnya tampil dengan cantik dan elegan.

untuk orang umum, yang menariknya pertama tentu adalah penampilan luar daging dan kulit dari tubuh orang. sementara, bagi mereka yang mempelajari kesehatan atau anatomi, suatu ilmu yang berkepentingan untuk memulihkan bila ada tubuh terkena gangguan, maka yang menarik bagi mereka adalah justru struktur rangka dan otot yang bekerja di balik daging dan kuilt tadi. yang tidak kelihatan secara langsung oleh mata awam.

demikian pulalah arsitektur.
bagi mahasiswa arsitektur yang memberikan waktu 5 tahun hidupnya untuk mempelajari bagaimana suatu arsitektur bisa berdiri tegak dengan elok, yang menarik perhatiannya adalah justru sistem struktur yang memungkinkan suatu bangunan bisa berdiri dengan kuat dan indah itu.
mereka harus mampu melihat dengan 'menembus ke sebalik kuli't hingga memahami bagaimana tiang, balok dan segenap sistem rangka bekerja menegakkan bangunan.

untuk itu mereka harus melihat bangunan-bangunan yang ditegakkan oleh orang sebelum dia. 
dengan kata lain, mereka harus belajar dari sejarah. sebab pengetahuan dan ketrampilan membangun tidak mungkin ada tanpa ada orang yang lebih dulu membangun!
sehingga bisa dimaklumi bila untuk belajar arsitektur  para mahasiswa itu harus belajar dari sana. belajar dari keunggulan dan kesalahan yang terjadi pada bangunan-bangunan sebelum dia.

pagi itu kami bersembilan datang ke masjid bertiang tunggal di kompleks TAMANSARI yogyakarta. masjid ini sistem strukturnya terbuka sehingga terlhat bagi siapa saja yag ada di bawahnya. adapun keunikan atau yang membedakan dari masjid-masjid lain adalah atapnya ditopang oleh satu tiang besar di tengah, dan tiang-tiang [sekarang ditutup tembok] yang ada di tepi-tepi atap.

dengan hanya satu tiang di tengah ruang sembahyang, maka ruang lebih terasa lapang. tidak terhalang oleh banyak tiang seperti jamaknya jenis atap lain. namun atap bertiang tunggal ini tidak bisa dimekarkan skalanya sehingga ukuran bangunan yang bisa dilayani juga tidak bisa terlalu besar.

bangunan bertiang tunggal sebenarnya sudah dikenal lama oleh orang jawa. di relief percandian sudah mengenal bangunan di jawa abad ke-12. demikian pula di kompleks kraton cirebon pun masih ada bangsal yang atapnya ditopang oleh tiang tunggal. juga di masjid-masjid di kawasan 'bang kulon' [yakni kawasan jawa tengah bagian barat, di sekitar sungai serayu, yang menggunakan bahasa banyumasan] masih dijumpai banyak masjid bertiang tunggal.

saya tidak punya informasi mengapa masjid yang dibangun oleh sri sultan hamengkubuwana IX dengan bantuan arsitek mintobudoyo belum lama ini memilih menggunakan atap bertiang tunggal, katimbang jenis atap lain. tapi yang jelas bahwa di kompleks kraton yogyakarta bertambah koleksi jenis struktur bangunan yang merupakan hasil belajar si arsitek dari produk masa lalu.
suatu tindakan yang mirip "membangunkan tubuh yang telah lama tertidur".

--
mahatmanto
duta wacana